Senin, 12 Desember 2016

Bismillahi-KTI-Penyusunan Bab I(Pendahuluan)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang
Penyelenggaraan makanan adalah…
Ada beberapa macam jenis penyelenggaraan makanan berdasarkan….
Menurut…. Jenis penyelenggaraan makanan berdasarkan…. Yaitu profit oriented dan service oriented. Profit oriented terdiri dari komersial, transportasi, dan industry.k
Makanan merupakan substansi untuk keberlangsungan hidup manusia yang dimasukkan melalui mulut manusia. Menurut Marsaulina (2012), makanan merupakan semua substansi yang diperlukan tubuh kecuali air, obat-obatan dan substansi-substansi yang diperlukan untuk tujuan pengobatan. Makanan yang merupakan substansi penting ini harus diperhatikan higene sanitasinya karena apabila tidak diperhatikan dalam pengolahan, penyimpanan, maupun penyajiannya, maka dapat menjadi media penularan penyakit. Melalui penjelasan tersebut maka diketahui bahwa makanan sangat penting dijaga keamanannya saat seorang akan mengonsumsi makanan tersebut. Lebih dari 90% kejadian penyakit pada manusia disebabkan mengkonsumsi pangan yang tercemar mikroba patogen, seperti penyakit tipus, disentri, botulisme, dan intoksikasi bakteri lainnya seperti hepatitis A (Winarno 1997).
Kualitas hygiene dan sanitasi makanan dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor penjamah makanan dan faktor lingkungan dimana makanan tersebut diolah, termasuk fasilitas pengolahan makanan yang tersedia. Maka  yang di butuhkan untuk dikonsumsi agar individu menjadi sehat adalah makanan yang aman untuk dikonsumsi. Maka makanan ini harus terjaga higiene sanitasinya.
Masalah hygiene dan sanitasi makanan merupakan masalah yang sangat kompleks dan bukan merupakan masalah yang baru. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Marsaulina (2012), menyimpulkan bahwa 30% dilaporkan keracunan makanan untuk kawasan Eropa terjadi pada rumah-rumah pribadi akibat tidak memperhatikan hygiene dan sanitasi makanan. Untuk kawasan Amerika Serikat saja setiap tahunnya ada 76 juta kasus penyakit bawaan makanan menyebabkan 325.000 jiwa rawat inap dan 5.000 kematian. Sekitar 70 % kasus keracunan makanan di dunia disebabkan oleh makanan siap santap yaitu makanan yang sudah diolah, terutama oleh usaha katering, rumah makan, kantin, restoran maupun makanan jajanan (Depkes, 2000)
Menurut penelitian mengenai perilaku hygiene penyelenggaraan makanan di pusat pendidikan dan latihan olahraga pelajar Jawa Tengah ditemukan bahwa pengolah makanan masih ada yang belum memakai celemek saat bekerja sebanyak 4 orang (66.7%), kuku dalam keadaan panjang dan kotor sebanyak 2 orang (33.3%), berbicara saat mengolah makanan sebanyak 5 orang (83.3%), dan tidak memakai sepatu sebanyak 6 orang (100%) (Fatmawati et al., 2013)
Menurut riskesdas, pevalensi hepatitis yang ditularkan melalui makanan dan air tahun 2013 (1,2%) dua kali lebih tinggi dibanding tahun 2007. Lima provinsi dengan prevalensi tertinggi hepatitis adalah Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Maluku. Pada Riskesdas 2007 Nusa Tenggara Timur juga merupakan provinsi tertinggi dengan hepatitis Insiden dan period prevalence diare untuk seluruh kelompok umur di Indonesia adalah 3,5 persen dan 7,0 persen. Lima provinsi dengan insiden maupun period prevalen diare tertinggi adalah Papua, Sulawesi Selatan, Aceh, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. (Riskesdas, 2013).
Sepekan terakhir pada bulan Mei 2012  ditemukan lima kasus keracunan makanan. Pada 22 Mei sedikitnya 15 orang pekerja di Gresik, Jawa Timur mengalami pusing, mual kemudian muntah-muntah setelah memakan nasi campur dan sambal. Di Madiun, pada tanggal 25 Mei sedikitnya 29 balita dan 17 orang tua muntah-muntah usai memakan bubur kacang hijau yang disediakan di sebuah p osyandu. Pada 27 Mei sedikitnya 45 warga bukit duri Jakarta Selatan mengalami pusing, mual dan muntah-muntah usai memakan nasi yang tidak layak konsumsi. Sedangkan pada 29 Mei 16 murid SDN 4 Bandongan di Magelang Jawa Tengah merasa mual-mual selesai memakan batagor sehingga para murid dilarikan ke UGD puskesmas Bandongan (Harahap, 2012)
Kebersihan individu terutama orang yang bekerja langsung  dalam pengolahan pangan dapat mencemari bahan pangan tersebut. Oleh karena itu kebersihan individu dalam pengolahan makanan merupakan salah satu hal yang penting agar produk pangannya aman untuk dikonsumsi. Selain pengolahan, penyimpanan dan penyajian makanan yang baik dan benar juga merupakan hal yang penting agar dapat menjaga mutu dan keamanan hasil olahan pangan.
Berdasarkan penelitian yang sudah ada, peneliti ingin mengetahui bagaimana aplikasi dalam menerapkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1096/Menkes/PER/VI/2011 mengenai hygiene dan sanitasi makanan serta hygiene personal saat mengolah makanan. Misalnya tidak mencuci tangan sebelum menangani makanan, tidak menutup kepala/tidak memakai topi, tidak memakai sarung tangan yang sekali pakai, tidak memperhatikan suhu penyimpanan makanan. Sehingga peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai aspek hygiene dan sanitasi Pengolahan,  penyimpanan serta penyajian makanan di MI Khodijah  Kota Malang tahun 2016.

1.2.            Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan ini adalah ”Bagaimana pelaksanaan hygiene dan sanitasi makanan melalui pengolahan, penyimpanan dan penyajian makanan dalam penyelenggaraan makanan MI Khodijah  Kota Malang tahun 2016?”

1.3.            Tujuan Penelitian
1.3.1.       Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran umum tentang “Aspek Hygiene dan Sanitasi Pengolahan,  Penyimpanan dan Penyajian Makanan di MI Khodijah  Kota Malang tahun 2016”.
1.3.2.      Tujuan Khusus
Berdasarkan tujuan umum, maka tujuan khusus yang akan dicapai yaitu sebagai berikut.
1.3.2.1.            Untuk mengetahui aspek hygiene dan sanitasi makanan melalui pengolahan makanan dalam penyelenggaraan makanan MI Khodijah  Kota Malang tahun 2016
1.3.2.2.            Untuk mengetahui aspek hygiene dan sanitasi makanan melalui penyimpanan makanan MI Khodijah  Kota Malang tahun 2016
1.3.2.3.            Untuk mengetahui aspek hygiene dan sanitasi makanan melalui penyajian makanan MI Khodijah  Kota Malang tahun 2016

1.4.            Manfaat Penelitian
1.4.1.      Manfaat Keilmuan
Manfaat  keilmuan dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi untuk institusi penelitian, masyarakat umum, khususnya dalam bidang kesehatan dan diharapkan menjadi kontribusi dalam meningkatkan hygiene dan sanitasi makanan khususnya bagi para pengolah makanan di MI Khodijah Malang.
1.4.2.      Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadii bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kota Malang dalam meningkatkan penyuluhan atau penyampaian informasi dan pelatihan guna meningkatkan pengetahuan pengolah makanan mengenai hygiene dan sanitasi makanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar