BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Penyelenggaraan
makanan adalah…
Ada beberapa
macam jenis penyelenggaraan makanan berdasarkan….
Menurut….
Jenis penyelenggaraan makanan berdasarkan…. Yaitu profit oriented dan service
oriented. Profit oriented terdiri dari komersial, transportasi, dan industry.k
Makanan merupakan substansi untuk keberlangsungan
hidup manusia yang dimasukkan melalui mulut manusia. Menurut Marsaulina (2012),
makanan merupakan semua substansi yang diperlukan tubuh kecuali air,
obat-obatan dan substansi-substansi yang diperlukan untuk tujuan pengobatan. Makanan
yang merupakan substansi penting ini harus diperhatikan higene sanitasinya
karena apabila tidak diperhatikan dalam pengolahan, penyimpanan, maupun
penyajiannya, maka dapat menjadi media penularan penyakit. Melalui penjelasan
tersebut maka diketahui bahwa makanan sangat penting dijaga keamanannya saat
seorang akan mengonsumsi makanan tersebut. Lebih dari 90% kejadian penyakit
pada manusia disebabkan mengkonsumsi pangan yang tercemar mikroba patogen,
seperti penyakit tipus, disentri, botulisme, dan intoksikasi bakteri lainnya
seperti hepatitis A (Winarno 1997).
Kualitas hygiene dan sanitasi makanan dipengaruhi
oleh dua faktor utama, yaitu faktor penjamah makanan dan faktor lingkungan
dimana makanan tersebut diolah, termasuk fasilitas pengolahan makanan yang
tersedia. Maka yang di butuhkan untuk
dikonsumsi agar individu menjadi sehat adalah makanan yang aman untuk
dikonsumsi. Maka makanan ini harus terjaga higiene sanitasinya.
Masalah hygiene dan sanitasi makanan merupakan
masalah yang sangat kompleks dan bukan merupakan masalah yang baru. Menurut Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) dalam Marsaulina (2012), menyimpulkan bahwa 30%
dilaporkan keracunan makanan untuk kawasan Eropa terjadi pada rumah-rumah pribadi
akibat tidak memperhatikan hygiene dan sanitasi makanan. Untuk kawasan Amerika
Serikat saja setiap tahunnya ada 76 juta kasus penyakit bawaan makanan
menyebabkan 325.000 jiwa rawat inap dan 5.000 kematian. Sekitar 70 % kasus
keracunan makanan di dunia disebabkan oleh makanan siap santap yaitu makanan
yang sudah diolah, terutama oleh usaha katering, rumah makan, kantin, restoran
maupun makanan jajanan (Depkes, 2000)
Menurut penelitian mengenai perilaku hygiene
penyelenggaraan makanan di pusat pendidikan dan latihan olahraga pelajar Jawa
Tengah ditemukan bahwa pengolah makanan masih ada yang belum memakai celemek
saat bekerja sebanyak 4 orang (66.7%), kuku dalam keadaan panjang dan kotor
sebanyak 2 orang (33.3%), berbicara saat mengolah makanan sebanyak 5 orang
(83.3%), dan tidak memakai sepatu sebanyak 6 orang (100%) (Fatmawati et al.,
2013)
Menurut riskesdas, pevalensi hepatitis yang
ditularkan melalui makanan dan air tahun 2013 (1,2%) dua kali lebih tinggi
dibanding tahun 2007. Lima provinsi dengan prevalensi tertinggi hepatitis
adalah Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan
Maluku. Pada Riskesdas 2007 Nusa Tenggara Timur juga merupakan provinsi
tertinggi dengan hepatitis Insiden dan period prevalence diare untuk seluruh kelompok
umur di Indonesia adalah 3,5 persen dan 7,0 persen. Lima provinsi dengan
insiden maupun period prevalen diare tertinggi adalah Papua, Sulawesi Selatan,
Aceh, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. (Riskesdas, 2013).
Sepekan terakhir pada bulan Mei 2012 ditemukan lima kasus keracunan makanan. Pada
22 Mei sedikitnya 15 orang pekerja di Gresik, Jawa Timur mengalami pusing, mual
kemudian muntah-muntah setelah memakan nasi campur dan sambal. Di Madiun, pada
tanggal 25 Mei sedikitnya 29 balita dan 17 orang tua muntah-muntah usai memakan
bubur kacang hijau yang disediakan di sebuah p osyandu. Pada 27 Mei sedikitnya
45 warga bukit duri Jakarta Selatan mengalami pusing, mual dan muntah-muntah
usai memakan nasi yang tidak layak konsumsi. Sedangkan pada 29 Mei 16 murid SDN
4 Bandongan di Magelang Jawa Tengah merasa mual-mual selesai memakan batagor
sehingga para murid dilarikan ke UGD puskesmas Bandongan (Harahap, 2012)
Kebersihan individu terutama orang yang bekerja
langsung dalam pengolahan pangan dapat
mencemari bahan pangan tersebut. Oleh karena itu kebersihan individu dalam
pengolahan makanan merupakan salah satu hal yang penting agar produk pangannya
aman untuk dikonsumsi. Selain pengolahan, penyimpanan dan penyajian makanan
yang baik dan benar juga merupakan hal yang penting agar dapat menjaga mutu dan
keamanan hasil olahan pangan.
Berdasarkan
penelitian yang sudah ada, peneliti ingin mengetahui bagaimana aplikasi dalam
menerapkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1096/Menkes/PER/VI/2011 mengenai hygiene dan sanitasi makanan serta hygiene
personal saat mengolah makanan. Misalnya tidak mencuci tangan sebelum menangani
makanan, tidak menutup kepala/tidak memakai topi, tidak memakai sarung tangan
yang sekali pakai, tidak memperhatikan suhu penyimpanan makanan. Sehingga
peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai aspek hygiene dan sanitasi
Pengolahan, penyimpanan serta penyajian
makanan di MI Khodijah Kota Malang tahun
2016.
1.2.
Rumusan Masalah
Adapun
yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan ini adalah ”Bagaimana pelaksanaan hygiene
dan sanitasi makanan melalui pengolahan, penyimpanan dan penyajian makanan
dalam penyelenggaraan makanan MI Khodijah
Kota Malang tahun 2016?”
1.3.
Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk
mendapatkan gambaran umum tentang “Aspek Hygiene dan Sanitasi Pengolahan, Penyimpanan dan Penyajian Makanan di MI
Khodijah Kota Malang tahun 2016”.
1.3.2. Tujuan
Khusus
Berdasarkan
tujuan umum, maka tujuan khusus yang akan dicapai yaitu sebagai berikut.
1.3.2.1.
Untuk mengetahui aspek hygiene dan sanitasi
makanan melalui pengolahan makanan dalam penyelenggaraan makanan MI
Khodijah Kota Malang tahun 2016
1.3.2.2.
Untuk mengetahui aspek hygiene dan
sanitasi makanan melalui penyimpanan makanan MI Khodijah Kota Malang tahun 2016
1.3.2.3.
Untuk mengetahui aspek hygiene dan
sanitasi makanan melalui penyajian makanan MI Khodijah Kota Malang tahun 2016
1.4.
Manfaat Penelitian
1.4.1. Manfaat
Keilmuan
Manfaat keilmuan dari hasil penelitian ini diharapkan
dapat menjadi bahan informasi untuk institusi penelitian, masyarakat umum, khususnya
dalam bidang kesehatan dan diharapkan menjadi kontribusi dalam meningkatkan
hygiene dan sanitasi makanan khususnya bagi para pengolah makanan di MI
Khodijah Malang.
1.4.2. Manfaat
Praktis
Hasil penelitian
ini diharapkan dapat menjadii bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kota Malang
dalam meningkatkan penyuluhan atau penyampaian informasi dan pelatihan guna
meningkatkan pengetahuan pengolah makanan mengenai hygiene dan sanitasi makanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar